Kamis, 23 Juni 2016

Lilin : Hidup Memberi Arti

               Kematian pasti akan dialami oleh setiap makhluk hidup. Kematian bukanlah akhir melainkan awal dari segalanya. Kehidupan didunia hanya sebatas untuk mempersiapkan diri mengahadapi kematian, dimana mati adalah awal kehidupan yang sesungguhnya.
         Mati bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan sesuatu yang sangat didambakan bagi setiap orang-orang beriman, bahwasannya kita akan dipertemukan dengan sang Khalik yang selalu kita sembah sepanjang hayat di dunia.
                Bahkan ribuan tahun lalu Socrates pernah berkata, sebagaimana dikutip oleh Asy-Syahrastani dalam buku nya Al-Milal wa An-Nihal, ”ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.”
                Tetapi mengapa masih banyak orang yang merasa belum siap menghadapi kematian? Dengan begitu banyak alasan yang dilontarkan. “amal ku masih belum banyak” atau juga “aku belum memberikan sesuatu yang berarti untuk ditinggalkan” dan lain sebagai nya. Tidak dapat dipungkiri lagi, kematian dapat datang kapan pun, dimana pun, dalam keadaan apapun.
                Jika harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, lalu bagaimana dengan manusia? Apa yang bisa ditinggalkannya?, Nama dan karya. Petuah klasik mengajarkan, ketika kau lahir, semua orang tersenyum bahagia saat melihatmu menangis. Maka berusahalah agar saat meninggal engkau akan menghadap Tuhan yang selama ini memiliki peran dan manfaat yang luar biasa dalam kehidupan mereka, kini telah tiada. Mereka sedih karena telah kehilangan orang yang sangat mereka cintai dan banggakan.
                Hidup yang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan memberikan manfaat diri sendiri dan bagi sesama. Dengan melakukan hal-hal positif dan bermanfaat, dapat memberikan citra yang baik pula bagi diri kita, bahkan mungkin kebaikan yang kita lakukan akan selalu dikenang walau telah tiada.
              Lilin, mungkin bagi sebagian orang tak baik hidup seperti lilin, ia merelakan tubuh nya hancur demi orang lain dan ia akan terlupakan begitu saja. Tetapi tidak kah kita menyadari bahwa begitu mulia sang lilin, ia merelakan tubuh nya binasa oleh api agar orang-orang dapat tersenyum dan merasa aman oleh cahaya yang dihasilkannya. Lilin hidup untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi sekitar nya, tidak peduli apapun yang terjadi pada dirinya. Hidup yang digunakan sebaik-baiknya, memberi manfaat bagi sekitar.
                Jangan hanya membuat kerusakan, tidak pernah memberi manfaat, tidak pernah berbagi kepada sesama, gunakan umur yang singkat itu untuk kebaikan, entah kapan hidup ini akan berakhir, mungkinkah kita masih dapat hidup seribu tahun lagi? Atau mungkin hanya dalam hitungan jam dari saat ini hidup kita akan berakhir? Siapa yang bisa menjamin?
Hidup itu hanya sekali, berikanlah arti, lalu mati.



Inspired by Ahmad Rifa’i Rif’an, “Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati”

2 komentar:

  1. Lilin baik, lalu hancur. Udara baik, selalu ada hingga saatnya tiba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, lilin memang akan hancur, tapi udara juga terkadang membawa banyak racun didalam nya. sulit memang, tidak ada yg sempurna kecuali Allah.Swt semata :)

      Hapus