Kematian
pasti akan dialami oleh setiap makhluk hidup. Kematian bukanlah akhir melainkan
awal dari segalanya. Kehidupan didunia hanya sebatas untuk mempersiapkan diri
mengahadapi kematian, dimana mati adalah awal kehidupan yang sesungguhnya.
Mati
bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan sesuatu yang sangat didambakan bagi
setiap orang-orang beriman, bahwasannya kita akan dipertemukan dengan sang
Khalik yang selalu kita sembah sepanjang hayat di dunia.
Bahkan
ribuan tahun lalu Socrates pernah berkata, sebagaimana dikutip oleh
Asy-Syahrastani dalam buku nya Al-Milal wa An-Nihal, ”ketika aku menemukan
kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun
ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu,
kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian.
Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.”
Tetapi
mengapa masih banyak orang yang merasa belum siap menghadapi kematian? Dengan
begitu banyak alasan yang dilontarkan. “amal ku masih belum banyak” atau juga “aku
belum memberikan sesuatu yang berarti untuk ditinggalkan” dan lain sebagai nya.
Tidak dapat dipungkiri lagi, kematian dapat datang kapan pun, dimana pun, dalam
keadaan apapun.
Jika
harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, lalu
bagaimana dengan manusia? Apa yang bisa ditinggalkannya?, Nama dan karya.
Petuah klasik mengajarkan, ketika kau lahir, semua orang tersenyum bahagia saat
melihatmu menangis. Maka berusahalah agar saat meninggal engkau akan menghadap
Tuhan yang selama ini memiliki peran dan manfaat yang luar biasa dalam
kehidupan mereka, kini telah tiada. Mereka sedih karena telah kehilangan orang
yang sangat mereka cintai dan banggakan.
Hidup
yang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan memberikan manfaat diri sendiri
dan bagi sesama. Dengan melakukan hal-hal positif dan bermanfaat, dapat
memberikan citra yang baik pula bagi diri kita, bahkan mungkin kebaikan yang
kita lakukan akan selalu dikenang walau telah tiada.
Lilin,
mungkin bagi sebagian orang tak baik hidup seperti lilin, ia merelakan tubuh
nya hancur demi orang lain dan ia akan terlupakan begitu saja. Tetapi tidak kah
kita menyadari bahwa begitu mulia sang lilin, ia merelakan tubuh nya binasa
oleh api agar orang-orang dapat tersenyum dan merasa aman oleh cahaya yang
dihasilkannya. Lilin hidup untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi sekitar
nya, tidak peduli apapun yang terjadi pada dirinya. Hidup yang digunakan
sebaik-baiknya, memberi manfaat bagi sekitar.
Jangan
hanya membuat kerusakan, tidak pernah memberi manfaat, tidak pernah berbagi
kepada sesama, gunakan umur yang singkat itu untuk kebaikan, entah kapan hidup
ini akan berakhir, mungkinkah kita masih dapat hidup seribu tahun lagi? Atau mungkin
hanya dalam hitungan jam dari saat ini hidup kita akan berakhir? Siapa yang
bisa menjamin?
Hidup itu hanya sekali, berikanlah
arti, lalu mati.
Inspired by Ahmad Rifa’i Rif’an, “Hidup Sekali, Berarti,
Lalu Mati”
Lilin baik, lalu hancur. Udara baik, selalu ada hingga saatnya tiba.
BalasHapusiya, lilin memang akan hancur, tapi udara juga terkadang membawa banyak racun didalam nya. sulit memang, tidak ada yg sempurna kecuali Allah.Swt semata :)
Hapus